MEMPELAJARI
SISTEM KERJASAMA PRODUKSI UNTUK
MENDAPATKAN BIAYA PRODUKSI MINIMUM PADA
PERUSAHAAN MANUFAKTUR
Master
Theses from JBPTITBPP / 2007-03-14 18:12:41
Oleh : untarti Tatik Mulyati, S2 - Industrial Engineering and Management
Dibuat : 1997-00-00, dengan 1 file
Telah dilakukan
penelitian mengenai jaringan kerjasama produksi pada perusahaan manufaktur.
Kerjasama produksi dilakukan dengan cara sub kontrak antara perusahaan manufaktur
sumber sebagai pemberi order dan suticontraktor sebagai pelaksana order.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan data biaya yang fiktif. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mempelajari sistem kerjasama produksi agar
perusahaan manufaktur pemberi order dapat memperoleh biaya produksi yang
minimum untuk proses produksi yang disubkontrakkannya.Oleh : untarti Tatik Mulyati, S2 - Industrial Engineering and Management
Dibuat : 1997-00-00, dengan 1 file
Keterbatasan kapasitas perusahaan manufaktur menyebabkan timbulnya kebutuhan akan kerjasama dengan perusabaan manufaktur lain. Perusahaan manufaktur sumber harus menetapkan komponen-komponen produk yang akan disubkontrakkan dan menentukan subkontraktor mana yang akan mengerjakannya. Konsep teknologi kelompok membantu perusahaan manufaktur sumber untuk mengelompokkan komponen-komponen tersebut berdasarkan kemiripannya, yang selanjutnya kelompok komponen ini akan disubkontrakkan. Konsep symbiotic manufacturing network akan membantu perusahaan manufaktur sumber dalam menganalisis dan memilih calon subkontraktor yang akan diajak bekerjasama dalam jaringan kerjasarna produksi. Biaya minimum digunakan sebagai kriteria utama dalam penentuan subkontraktor terpilih. Sedangkan analisis biaya dilakukan dengan metode simpleks.
Dari penelitian ini diperoleh infornrasi bahwa keuntungan dari penerapan konsep teknologi kelompok untuk dasar penentuan pengelompokan produk yang disubkontrakkan, belum terlihat. Konsep symbiotic manufacturing network memudahkan perusahaan manufaktur sumber untuk menganalisis jaringan kerjasama yang mungkin dilakukan. Kerjasama produksi hanya dapat terjalin apabila subkontraktor dapat melakukan proses operasi produksi dengan lebih efisien dan produktif dibanding perusahaan manufaktur sumber; sehingga biaya produksi di subkontraktor dapat lebih murah dibandingkan biaya produksi di perusahaan manufaktur sumber.
PENGEMBANGAN
PERANGKAT LUNAK SISTEM MANUFAKTUR BERBASIS WEB PADA PT XYZ DENGAN STUDI KASUS
PEMODELAN AKTIVITAS PRODUKSI
Undergraduate
Theses from JBPTITBPP / 2009-03-02 13:10:40
Oleh : TATAN FIRMANSYAH (NIM 131 04 115), S1 - Department of Mechanical Engineering
Dibuat : 2008, dengan 7 file
Sistem Produksi
Terdistribusi Mandiri (SPTM) merupakan sistem produksi maju yang memiliki
fleksibilitas tinggi dalam mengatasi permintaan terhadap produk. Permintaan
tersebut bisa dalam berbagai jenis antara lain jumlah produk yang sedikit
tetapi variasinya banyak, jumlah produk banyak tetapi variasinya sedikit dan
variasi produk banyak dalam jumlah yang banyak. Elemen-elemen produksi seperti
produk, mesin produksi, dan stasiun produksi dimodelkan menjadi bentuk
objek-objek yang memiliki kecerdasan tinggi sebagai salah satu solusi untuk
memperlancar aliran informasi maupun aliran material dalam proses produksi
sehingga keseluruhan proses produksi dapat berjalan dengan lancar. Produk
merupakan salah satu elemen penting dalam industri manufaktur. PT XYZ sebagai
salah satu industri manufaktur, memproduksi produk yang berupa kendaraan
bermotor niaga yang akan menerapkan SPTM dalam proses produksinya. Selama proses
produksi berlangsung, informasi mengenai produk dan elemen produksi lainnya
sangat diperlukan dalam pengendalian aliran informasi dan aliran material antar
stasiun produksi. Jika terjadi masalah misalnya keterlambatan dalam aliran
material tersebut maka dengan menerapkan konsep SPTM, keterlambatan tersebut
bisa dideteksi dan diatasi dengan cepat sehingga dapat mengefisienkan siklus
pembuatan produk dan menjaga kualitas produk tersebut.Oleh : TATAN FIRMANSYAH (NIM 131 04 115), S1 - Department of Mechanical Engineering
Dibuat : 2008, dengan 7 file
Tugas sarjana ini berisi pembuatan perangkat lunak berdasarkan konsep SPTM yang saat ini sedang dikembangkan di Laboratorium Teknik Produksi Program Studi Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung. Perangkat lunak yang dikembangkan mencakup model aktivitas produksi dan peralatan yang digunakan dalam mendukung aktivitas tersebut di PT XYZ. Perangkat lunak yang dikembangkan merupakan aplikasi berbasis web. Aplikasi ini dilengkapi dengan fasilitas penyimpanan data ke basis data. Model basis data dikembangkan berdasarkan model aktivitas produksi dan peralatan.
ANALISIS
EFEKTIVITAS MANAJEMEN PERAWATAN MESIN (STUDI KASUS PADA MESIN SINCOM E32K DI
DIVISI PERMESINAN DAN JASA PT. X)
Master
Theses from JBPTITBPP / 2008-11-25 14:02:19
Oleh : IMAN KARTIWA (NIM 29105117), Central Library Institute Technology Bandung
Dibuat : 2008, dengan 6 file
PT. X merupakan
satu-satunya produsen produk pertahanan di Indonesia, yang mana kepemilikannya
100% milik negara. Perubahan lingkungan bisnis mengharuskan PT. X melakukan
adaptasi seperti melakukan restrukturisasi sejak tahun 1996. Tujuan
restrukturisasi adalah menjadi perusahaan negara yang mandiri namun tidak lepas
dari misinya sebagai perusahaan yang mendukung pertahanan negara. Hasil
restrukturisasi tersebut berupa unit-unit militer dan komersial yang lebih
mandiri, sehingga diharapkan dapat memperbaiki kinerja perusahaan. Divisi Mesin
Industri dan Jasa, sebagai divisi produk komersial diharapkan dapat
meningkatkan efesiensi produksi. Salah satu upayanya ialah dengan melakukan
manajemen pemeliharaan mesin. Upaya ini dilakukan agar pemborosan akibat
kegagalan operasi mesin dapat dikurangi sehingga biaya produksi dapat ditekan.Oleh : IMAN KARTIWA (NIM 29105117), Central Library Institute Technology Bandung
Dibuat : 2008, dengan 6 file
Departemen Pemeliharaan mesin sebagai penanggung jawab ketersediaan mesin di setiap divisi telah melakukan manajemen perawatan mesin. Namun pelaksanaannya masih belum optimal, seperti rendahnya realisasi jadwal perawatan prefentif (PM), kurangnya teknisi yang berpengalaman dan rendahnya standar utilitas mesin. Standar utilitas mesin yang ditetapkan perusahaan sebesar 60% tidak sesuai dengan kondisi persaingan bisnis Divisi Mijas. Untuk mengatasi permasalahan dalam meningkatkan efektivitas mesin di Departemen Mijas PT. X harus diterapkan metoda perawatan mesin yang tepat.
Dalam menerapkan metoda perawatan mesin, proyek akhir ini menggunakan pendekatan Total Productive Maintenance (TPM). Prinsip dari metode ini adalah sebuah benchmark keefektifan manajemen perawatan mesin aktual di perusahaan, dibandingkan dengan prinsip TPM dalam indeks Overall Equipment Effectiveness (OEE). Hasil benchmark tersebut dianalisis menurut prinsip TPM yang terdiri dari total effectiveness, total maintenance sistem dan total participation of all employee. Dari analisis objek penelitian (mesin CNC Sincom E 32 K) terhadap ketiga elemen TPM didapat efektivitas mesin yang belum optimal dan bervariasi. OEE mesin sebesar ±77%, walaupun memenuhi standar perusahaan tetapi masih jauh dari kondisi OEE ideal (>85%).
Manajemen perlu membuat rencana perbaikan berupa penetapan target efektivitas mesin secara bertahap namun realistis, yaitu sebesar ± 80%. Pencapaian target tersebut berupa rancangan dari sistem yang ada agar dapat diakamodasi di Departemen Pemeliharaan Mesin. Perancangan ini sebagai strategi untuk meningkatkan efektivitas manajemen perawatan mesin yang menekankan pada elemen dari TPM (pilar championsip), seperti pengembangan kompetensi, peningkatan peranan operator mesin, peningkatan manajemen PM, Early Equipment Building.
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus